Punya brand skincare sendiri sekarang memang semakin mudah. Banyak perusahaan menawarkan jasa maklon yang memungkinkan siapa saja mengembangkan produk skincare dengan merek sendiri. Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan nih, yakni legalitas produk. Mungkin kamu sering mendengar istilah “skincare sudah BPOM” atau “produk bersertifikat BPOM”. Tetapi sebenarnya, untuk produk skincare & kosmetik, istilah yang lebih tepat adalah skincare atau kosmetik telah memiliki izin edar berupa notifikasi dari BPOM. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjelaskan bahwa kosmetik yang akan diedarkan di Indonesia wajib memiliki izin edar berupa notifikasi. Lalu, kenapa notifikasi ini penting? Dan apa yang akan terjadi jika brand menjual skincare tanpa legalitas tersebut? Simak lebih lanjut~ Apa Itu Notifikasi BPOM untuk Skincare & Kosmetik? Notifikasi merupakan mekanisme izin edar yang digunakan untuk produk skincare dan kosmetik di Indonesia. Melalui mekanisme ini, pelaku usaha mengajukan notifikasi produk kepada BPOM sebelum produk diedarkan. Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 mengatur tata cara pengajuan notifikasi kosmetika dan saat ini tercatat berstatus berlaku pada JDIH BPOM. BPOM juga menjelaskan bahwa pemohon notifikasi dapat berupa industri kosmetika di Indonesia, badan usaha yang melakukan kontrak produksi dengan industri kosmetika di Indonesia, maupun importir sesuai ketentuan yang berlaku. Artinya, brand yang menggunakan jasa maklon juga termasuk dalam ekosistem legalitas kosmetik. Jadi, bukan karena produk dibuat oleh pabrik maklon, kemudian brand bisa langsung menjualnya. Produk yang akan diedarkan tetap harus memenuhi persyaratan dan memiliki notifikasi sesuai ketentuan berlaku ya. Kenapa Produk Skincare Harus Memiliki Notifikasi BPOM? 1. Karena Legalitas Adalah Syarat untuk Beredar Alasan paling dasar adalah karena produk kosmetik yang diedarkan di Indonesia harus memiliki izin edar berupa notifikasi. Ini berarti legalitas bukan sekadar tambahan untuk membuat produk terlihat profesional. Legalitas merupakan bagian dari persyaratan agar produk dapat diedarkan secara resmi. Bagi pemilik brand, hal ini sangat penting karena bisnis skincare bukan hanya soal membuat produk yang menarik, tetapi juga memastikan produk tersebut memenuhi ketentuan yang berlaku. 2. Membantu Memastikan Produk Memenuhi Persyaratan Kosmetik Notifikasi juga berkaitan dengan pemenuhan berbagai persyaratan produk kosmetik. Dalam sistem notifikasi, pelaku usaha memiliki tanggung jawab untuk memastikan kosmetik yang diedarkan memenuhi ketentuan yang berlaku. Menariknya, BPOM menjelaskan bahwa sistem notifikasi bukan berarti setiap produk menjalani evaluasi pre-market secara komprehensif seperti sistem registrasi obat. Karena itu, pelaku usaha tetap memiliki tanggung jawab besar untuk melakukan penilaian dan memastikan produk yang diedarkan memenuhi persyaratan. Jadi, jangan sampai muncul anggapan: “Kalau sudah ada nomor BPOM berarti BPOM sudah menjamin semua aspek produk.” Tidak sesederhana itu. Pemilik nomor notifikasi tetap bertanggung jawab terhadap kosmetik yang dibuat, diimpor, dan/atau diedarkan. 3. Memberikan Kepercayaan Lebih kepada Konsumen Bayangkan ada dua produk skincare dengan harga dan manfaat yang hampir sama. Produk A memiliki nomor notifikasi yang dapat diverifikasi. Produk B tidak memiliki nomor notifikasi yang jelas. Mana yang lebih meyakinkan? Bagi konsumen yang semakin sadar mengenai keamanan produk, legalitas bisa menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kepercayaan terhadap sebuah brand. Apalagi sekarang produk skincare banyak dijual melalui marketplace dan media sosial. BPOM sendiri mengimbau masyarakat untuk menerapkan Cek KLIK: Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa sebelum membeli kosmetik. Artinya, legalitas juga menjadi bagian dari informasi yang perlu diperhatikan konsumen. 4. Mengurangi Risiko Produk Ilegal Beredar Ini bagian yang tidak boleh dianggap sepele. Kosmetik tanpa izin edar atau kosmetik yang tidak memenuhi ketentuan dapat menjadi masalah serius. Dalam pengawasan triwulan II 2026, BPOM menemukan 2.205 item kosmetik dari sarana yang diawasi dan mayoritas temuan tersebut merupakan kosmetik ilegal. Pada periode yang sama, BPOM juga menemukan 14 kosmetik yang terbukti mengandung bahan berbahaya dan/atau bahan yang dilarang digunakan dalam kosmetik. Temuan tersebut menunjukkan bahwa legalitas bukan hanya masalah administrasi. Ada aspek keamanan, mutu, dan perlindungan konsumen yang harus diperhatikan. Lalu, Apa yang Terjadi Kalau Skincare Tidak Memiliki Notifikasi? Kalau sebuah produk kosmetik diedarkan tanpa memenuhi ketentuan, brand dapat menghadapi berbagai konsekuensi. Mulai dari tindakan pengawasan dan penertiban, penghentian peredaran, hingga sanksi administratif sesuai pelanggaran yang dilakukan. Dalam kasus tertentu, BPOM juga dapat melakukan penarikan produk dari peredaran. Sebagai contoh, pada akhir 2025 BPOM menemukan 26 kosmetik yang mengandung bahan berbahaya dan/atau dilarang. Terhadap pelanggaran tersebut, BPOM menyebutkan adanya tindakan administratif seperti pencabutan izin edar, pencabutan sertifikat CPKB, serta penghentian sementara kegiatan produksi, peredaran, dan importasi. Bagi seorang pengusaha atau brand, masalah seperti ini tentu bukan hanya berdampak pada produk. Reputasi brand juga bisa ikut terdampak. Bayangkan sudah mengeluarkan biaya untuk branding, influencer, iklan, packaging, dan marketplace, kemudian produk harus ditarik karena masalah legalitas. Kerugiannya tentu bisa jauh lebih besar dibandingkan biaya dan waktu yang dikeluarkan untuk memastikan legalitas sejak awal. Jangan Salah Paham: Nomor BPOM Bukan Berarti Produk Pasti “Sempurna” Ada yang ga kalah penting nih~ Memiliki nomor notifikasi bukan berarti produk otomatis bebas dari semua kemungkinan masalah ya. Sistem kosmetik di Indonesia menggunakan mekanisme notifikasi dan tetap memiliki pengawasan setelah produk beredar (post-market surveillance). BPOM juga melakukan pengawasan terhadap produk yang beredar dan mengambil tindakan apabila ditemukan pelanggaran. Karena itu, kalau kamu seorang brand owner tetap harus memastikan: Formula sesuai dengan ketentuan. Bahan yang digunakan diperbolehkan. Klaim produk sesuai ketentuan. Label dan kemasan memenuhi persyaratan. Produksi dilakukan dengan proses yang baik. Produk memiliki nomor notifikasi yang sesuai. Data produk sesuai dengan yang dinotifikasi. Bahkan BPOM pernah menemukan kosmetik yang diedarkan tidak sesuai dengan data notifikasi, termasuk diproduksi bukan oleh industri yang seharusnya. BPOM menyebut kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penurunan mutu dan memengaruhi keamanan kosmetik atau produk skincare tersebut Produk yang bagus adalah produk yang dikembangkan dengan formula yang tepat, diproduksi dengan proses yang baik, dan diedarkan sesuai ketentuan. Her Bayu Inti (HBI) merupakan perusahaan maklon skincare, kosmetik, PKRT, dan ALKES yang membantu brand owner mengembangkan produk dari tahap awal hingga produksi lho. Mulai dari konsultasi konsep, pengembangan formula bersama tim Research & Development (R&D), pemilihan bahan, proses produksi, quality control, hingga pendampingan aspek legalitas sesuai kebutuhan produk. Bagi kamu calon brand owner, legalitas sebaiknya bukan dianggap sebagai hambatan untuk memulai bisnis. Justru, legalitas adalah salah satu fondasi untuk membangun brand yang lebih terpercaya dan berkelanjutan. Karena membangun brand skincare bukan cuma tentang bagaimana produk bisa laku. Tapi juga tentang bagaimana produk tersebut aman, memenuhi
Macam-Macam Tipe Body Scrub, Kamu Tipe Yang Mana?
Kulit tubuh juga membutuhkan perawatan, bukan hanya wajah. Salah satu produk yang cukup populer untuk merawat kulit tubuh adalah body scrub. Body scrub merupakan produk eksfoliasi yang membantu mengangkat sel kulit mati dari permukaan kulit. Dengan mengurangi penumpukan sel kulit mati, kulit dapat terasa lebih halus dan tampak lebih bersih. Menariknya, body scrub tidak hanya terdiri dari satu jenis. Ada berbagai tipe scrub yang dibedakan berdasarkan bahan eksfoliasinya, bentuk formulanya, tekstur, hingga ingredient tambahan yang digunakan. Jadi, kalau kamu sedang mencari body scrub, kira-kira kamu tipe yang mana nih? 1. Sugar Scrub: Si Lembut untuk Eksfoliasi Salah satu jenis body scrub yang paling populer adalah sugar scrub atau scrub berbahan dasar gula. Gula digunakan sebagai partikel eksfoliasi fisik. Salah satu karakteristiknya adalah gula dapat larut ketika terkena air, sehingga sensasi abrasifnya dapat berkurang selama penggunaan. Karena itu, sugar scrub sering dipilih untuk mendapatkan pengalaman eksfoliasi yang relatif nyaman, terutama ketika formulanya dirancang dengan ukuran partikel dan basis yang tepat. Namun, tetap perlu diperhatikan bahwa “gula” tidak otomatis berarti scrub akan cocok untuk semua jenis kulit. Tekstur, ukuran partikel, tekanan saat menggosok, dan frekuensi penggunaan tetap memengaruhi risiko iritasi. 2. Sea Salt Scrub: Sensasi Scrub yang Lebih Intens Kalau kamu suka sensasi scrub yang lebih terasa, sea salt scrub bisa menjadi salah satu pilihan. Garam laut memiliki kristal yang relatif keras sehingga dapat memberikan sensasi eksfoliasi fisik yang lebih kuat dibandingkan partikel yang lebih mudah larut. Karena itu, sea salt scrub lebih cocok digunakan dengan gerakan lembut dan tidak perlu digosok terlalu keras. Perlu diingat, produk berbasis garam juga dapat terasa perih ketika digunakan pada kulit yang sedang mengalami luka kecil, iritasi, atau kondisi skin barrier yang terganggu. Jadi, semakin kasar scrub bukan berarti semakin bagus hasilnya ya~ 3. Coffee Scrub: Favorit Pecinta Bahan Natural Nah, kalau yang satu ini mungkin kamu sudah familiar nih. Coffee scrub menggunakan partikel kopi sebagai bahan eksfoliasi fisik. Selain memberikan tekstur scrub yang khas, kopi juga menarik dari sisi kandungan bioaktifnya. Coffee-derived ingredients mengandung berbagai senyawa seperti caffeine, chlorogenic acids, dan flavonoids yang telah banyak diteliti untuk berbagai aplikasi dermato-kosmetik. Bahkan, penelitian terbaru mengenai spent coffee grounds mengeksplorasi pemanfaatan ampas kopi sebagai bahan exfoliant kosmetik dan menunjukkan bahwa karakteristik formulasi, konsentrasi partikel, serta sensori dapat memengaruhi performa dan penerimaan pengguna. Namun, perlu dibedakan antara coffee grounds sebagai partikel scrub dan coffee extract sebagai bahan aktif. Keduanya tidak memiliki fungsi yang sama. 4. Gel Scrub: Buat Kamu yang Suka Tekstur Ringan Tidak semua scrub berbentuk cream atau minyak. Ada juga gel scrub, yaitu body scrub dengan basis gel yang biasanya memberikan sensasi lebih ringan dan mudah diratakan. Partikel eksfoliasinya bisa berasal dari berbagai bahan, tergantung formulasi yang digunakan. Keunggulan gel scrub lebih banyak berkaitan dengan sensori dan karakteristik formulasi. Teksturnya dapat memberikan pengalaman penggunaan yang terasa lebih segar dan ringan. Jenis ini menarik untuk produk body care yang ingin diposisikan sebagai produk eksfoliasi yang praktis dan nyaman digunakan. 5. Herbal atau Green Tea Scrub: Eksfoliasi + Botanical Ingredient Tipe berikutnya adalah herbal scrub atau scrub yang mengombinasikan partikel eksfoliasi dengan ekstrak tanaman. Salah satu contoh yang menarik adalah green tea scrub. Green tea (Camellia sinensis) mengandung berbagai polifenol, terutama EGCG, yang memiliki aktivitas antioksidan dan telah banyak diteliti dalam konteks perawatan kulit. Sebuah scoping review juga menemukan penelitian mengenai penggunaan green tea dan polifenolnya dalam produk kosmetik untuk berbagai aspek skin aging. Jadi, pada tipe ini, manfaat produk tidak hanya berasal dari proses eksfoliasi, tetapi juga dari ingredient tambahan yang dimasukkan ke dalam formulasi. 6. Oatmeal Scrub: Alternatif dengan Sensasi Lebih Gentle Selain gula dan garam, oatmeal juga dapat digunakan dalam produk eksfoliasi dan body care. Oat-based ingredients menarik karena selain dapat digunakan dalam formulasi perawatan kulit, oatmeal juga dikenal luas dalam produk yang ditujukan untuk kulit kering atau membutuhkan perawatan yang lebih lembut. Untuk produk scrub, ukuran dan bentuk partikel tetap harus diperhatikan. Tujuannya bukan membuat partikel semakin kasar, tetapi menciptakan eksfoliasi yang efektif sekaligus nyaman digunakan. 7. Chemical & Enzyme Body Exfoliant: Bukan Scrub Tapi Sama-Sama Eksfoliasi Nah, ini bonus! Sebenarnya tidak semua produk eksfoliasi tubuh harus berbentuk scrub. Ada juga chemical exfoliant yang menggunakan bahan seperti AHA atau BHA, serta enzyme exfoliant yang menggunakan enzim tertentu untuk membantu proses pelepasan sel kulit mati. AHA seperti glycolic acid dan lactic acid, misalnya, banyak digunakan sebagai bahan eksfoliasi kosmetik. Jadi kalau konsumen tidak menyukai sensasi menggosok kulit, produk eksfoliasi berbasis chemical atau enzyme bisa menjadi alternatif yang berbeda dari physical scrub nih~ Jadi, Body Scrub Mana yang Paling Cocok? Jawabannya tidak bisa hanya berdasarkan jenis scrub. Yang perlu diperhatikan adalah kondisi kulit, ukuran dan karakteristik partikel, formulasi, frekuensi penggunaan, serta seberapa kuat eksfoliasinya. Untuk kulit yang mudah sensitif, eksfoliasi mekanis yang terlalu agresif justru dapat menyebabkan iritasi. American Academy of Dermatology juga menyarankan agar metode eksfoliasi disesuaikan dengan kondisi kulit dan dilakukan dengan lembut. Jadi, jangan menggunakan prinsip: “Semakin kasar scrub, semakin bersih kulit.” ya! Justru yang dicari adalah eksfoliasi yang efektif tanpa membuat kulit kehilangan kenyamanannya. Body Scrub Bukan Cuma Soal Partikel Membuat body scrub sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar memilih “mau gula atau kopi”. Formulator perlu mempertimbangkan ukuran partikel, konsentrasi, basis formula, tekstur, spreadability, stabilitas, preservasi, sensori, hingga kompatibilitas dengan bahan aktif lainnya. Bahkan penelitian mengenai formulasi coffee scrub menunjukkan bahwa perbedaan basis formula dan konsentrasi partikel dapat memengaruhi karakteristik sensori dan respons skin barrier setelah penggunaan. Artinya, dua produk yang sama-sama menggunakan “coffee scrub” belum tentu memberikan pengalaman penggunaan yang sama ya. REFERENSI Mekonnen, T. H., et al. (2026). Caffeinated skincare development and optimization: Upcycling spent coffee grounds into natural exfoliants. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12701547/?utm_source American Academy of Dermatology Association. (2026). How to safely exfoliate at home. American Academy of Dermatology Association. https://www.aad.org/public/everyday-care/skin-care-secrets/routine/safely-exfoliate-at-home? Mikhaeil, et al. (2025). Coffea arabica: An emerging active ingredient in dermato-cosmetic applications. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11858793/?utm_source Febrinasari, R. P., Benedictus, Tan, K., Mardhiati, Y., et al. (2024). Green tea as a cosmetic agent for skin aging: A scoping review. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12441187/?utm_source
Apa sih bahan CHITOSAN di Skincare? Kenalan Dulu Yuk!
Kalau selama ini kamu lebih sering mendengar nama hyaluronic acid, niacinamide, ceramide, atau retinol, mungkin nama chitosan masih terdengar asing ya? Padahal, chitosan merupakan salah satu bahan yang cukup menarik untuk dikembangkan dalam industri skincare lho. Bahan ini termasuk biopolimer alami yang memiliki berbagai karakteristik unik dan dapat digunakan untuk mendukung fungsi sebuah formulasi skincare. Lalu, apa sebenarnya chitosan itu? Dan kenapa bahan ini menarik perhatian dalam dunia skincare? Apa itu Chitosan? Chitosan merupakan polisakarida/biopolimer yang umumnya diperoleh melalui proses deasetilasi dari chitin. Chitin sendiri merupakan salah satu polisakarida alami yang banyak ditemukan pada eksoskeleton hewan krustasea seperti udang, kepiting dan cangkang kerang, serta pada beberapa organisme lainnya. Melalui proses pengolahan tertentu, chitin dapat diubah menjadi chitosan yang memiliki karakteristik fisik dan kimia berbeda. Menariknya, chitosan memiliki beberapa sifat yang membuatnya berpotensi digunakan dalam formulasi skincare, seperti film forming, biokompatibilitas, biodegradabilitas, dan aktivitas antimikroba. Namun, manfaatnya dalam skincare tidak hanya berasal dari aktivitas biologisnya. Chitosan juga dapat memberikan fungsi teknis dalam sebuah formulasi. 1. Membentuk Lapisan Tipis pada Permukaan Kulit Salah satu karakteristik menarik dari chitosan adalah kemampuannya sebagai film former. Sederhananya, chitosan dapat membantu membentuk lapisan tipis pada permukaan kulit setelah diaplikasikan. Karakteristik ini dapat dimanfaatkan untuk memberikan sensasi tertentu pada kulit sekaligus membantu mempertahankan bahan yang terdapat dalam formulasi di permukaan kulit. Karena sifat film-forming tersebut, chitosan juga telah diteliti sebagai material untuk berbagai jenis masker kosmetik dan sistem penghantaran bahan aktif. 2. Berpotensi Mendukung Kelembapan Kulit Chitosan juga menarik karena memiliki sifat humektan dan moisturizer yang dapat mendukung formulasi produk pelembap. Review mengenai penggunaan chitosan dalam kosmetik dan skincare menyebutkan bahwa bahan ini dapat berperan dalam menjaga kelembapan serta memberikan fungsi tambahan dalam formulasinya. Namun, bukan berarti chitosan otomatis lebih efektif dibandingkan bahan pelembap populer seperti hyaluronic acid atau glycerin. Setiap bahan memiliki karakteristik yang berbeda dan performa akhirnya tetap bergantung pada konsentrasi, bentuk chitosan yang digunakan, serta keseluruhan formula. 3. Memiliki Potensi Antimikroba Salah satu karakteristik yang cukup banyak diteliti dari chitosan adalah aktivitas antimikrobanya. Sifat ini berkaitan dengan struktur dan muatan positif chitosan yang dapat berinteraksi dengan permukaan mikroorganisme. Karena itu, chitosan tidak hanya diteliti untuk kosmetik, tetapi juga untuk berbagai aplikasi biomedis, termasuk material yang berhubungan dengan kulit. Dalam konteks skincare, potensi tersebut membuat chitosan menarik untuk dikembangkan dalam produk yang membutuhkan fungsi tambahan tertentu. Tetapi perlu diingat, potensi antimikroba bahan tidak otomatis berarti sebuah produk skincare berbahan chitosan dapat mengobati jerawat atau infeksi kulit ya. Klaim seperti itu membutuhkan bukti klinis dan harus mengikuti ketentuan klaim produk yang berlaku. 4. Bisa Digunakan sebagai Carrier Bahan Aktif Ini salah satu alasan mengapa chitosan cukup menarik dari sisi teknologi formulasi. Chitosan dan turunannya dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk seperti gel, film, membran, dan partikel, sehingga berpotensi digunakan sebagai sistem penghantaran bahan aktif. Salah satu penelitian bahkan mengembangkan film berbasis chitosan yang mengandung hyaluronic acid dan rutin untuk aplikasi kosmetik. Penelitian tersebut mengevaluasi pelepasan rutin dari film serta beberapa parameter kulit setelah aplikasi topikal. Konsep seperti ini menarik karena menunjukkan bahwa chitosan tidak hanya bisa menjadi “ingredient tambahan”, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari teknologi formulasi. 5. Dapat Membantu Karakteristik Tekstur Produk Selain manfaat yang berhubungan dengan kulit, chitosan juga memiliki fungsi sebagai rheology modifier. Artinya, bahan ini dapat membantu memengaruhi karakteristik aliran dan viskositas suatu formulasi. Dalam produk seperti gel atau krim, karakteristik tersebut penting karena dapat memengaruhi tekstur, spreadability, dan pengalaman penggunaan. Jadi, penggunaan chitosan dalam sebuah formula tidak selalu bertujuan untuk memberikan satu manfaat langsung kepada kulit ya. Kadang, perannya justru membantu membentuk karakteristik produk secara keseluruhan. Apakah Chitosan Bisa Dipakai di Semua Skincare? Belum tentu ya! Salah satu tantangan chitosan adalah kelarutannya yang rendah dalam air pada kondisi pH netral, sehingga formulasi perlu mempertimbangkan karakteristik bahan tersebut dengan baik. Karena itu, formulasi produk yang menggunakan chitosan membutuhkan pertimbangan seperti: Jenis dan karakteristik chitosan Konsentrasi bahan pH formulasi Kelarutan Kompatibilitas dengan bahan lain Stabilitas produk Tekstur dan sensori Inilah mengapa pemilihan ingredient tidak cukup hanya berdasarkan “bahan ini sedang tren”. Formulator harus mengetahui bagaimana bahan tersebut bekerja di dalam formula. Apakah Chitosan Bisa Menjadi Ingredient Skincare Masa Depan? Review terbaru mengenai penggunaan chitosan dalam kosmetik menunjukkan bahwa bahan ini dapat berfungsi sebagai film former, viscosity modifier, moisturizer, serta carrier untuk bahan aktif. Penelitian terbaru juga terus mengeksplorasi penggunaannya dalam skin barrier, acne, pigmentasi, hingga aplikasi estetika. Namun, penelitian pada manusia masih lebih terbatas dibandingkan ingredient skincare yang sudah sangat mapan. Jadi, daripada menyebut chitosan sebagai “bahan ajaib”, lebih tepat melihatnya sebagai biopolimer multifungsi yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam teknologi kosmetik. REFERENSI Chitosan in aesthetic practice: A clinical narrative review of skin, scar, and scalp applications. (2026). Journal of Cosmetic Dermatology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/42281907/ Kulka, K., & Sionkowska, A. (2023). Chitosan Based Materials in Cosmetic Applications: A Review. Molecules, 28(4), 1817. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9959028/?utm_source Kulka, K., & Sionkowska, A. (2023). Chitosan-based films containing rutin for potential cosmetic applications. Materials, 16(15), 5318. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37571118/ Aranaz, I., Alcántara, A. R., Civera, M. C., Arias, C., Elorza, B., Heras Caballero, A., & Acosta, N. (2021). Chitosan: An overview of its properties and applications. Polymers, 13(19), 3256. https://www.mdpi.com/2073-4360/13/19/3256 Sionkowska, A., & Kaczmarek, B. (2019). Cosmetic and cosmeceutical applications of chitin, chitosan and their derivatives. Polymers, 11(8), 1382.
OEM dan ODM, Kamu Sudah Tahu Bedanya Belum? Jangan Sampai Salah Pilih!
Bagi kamu yang ingin memiliki brand skincare atau kosmetik sendiri, mungkin pernah mendengar istilah OEM dan ODM. Kedua istilah ini sering muncul dalam dunia maklon skincare dan kosmetik lho. Tetapi masih banyak orang yang menganggap keduanya sama. Padahal, memilih sistem kerja yang kurang sesuai dapat memengaruhi biaya, waktu peluncuran produk, tingkat eksklusivitas, hingga strategi jangka panjang sebuah brand lho! Lalu, apa sih perbedaan OEM dan ODM? Dan mana yang lebih cocok untuk brand kamu? Yuk simak lebih lanjut! Apa itu OEM? OEM merupakan singkatan dari Original Equipment Manufacturer. Dalam sistem OEM, brand owner memiliki ide, spesifikasi, atau formula produk yang ingin dibuat, kemudian pabrik bertugas memproduksi produk tersebut sesuai permintaan. Secara sederhana kamu memiliki konsep atau formula, pabrik membantu memproduksinya. Model ini biasanya dipilih oleh brand yang ingin memiliki produk dengan karakteristik khusus atau formula yang lebih eksklusif. OEM juga memberikan fleksibilitas lebih besar dalam menentukan bahan aktif, tekstur, aroma, warna, hingga performa produknya nih. Sebagai contoh, kamu ingin membuat serum dengan kombinasi bahan aktif tertentu yang tidak umum di pasaran. Tim R&D akan membantu mengembangkan formula tersebut hingga menjadi produk jadi. Apa itu ODM? ODM adalah singkatan dari Original Design Manufacturer. Berbeda dengan OEM, pada sistem ODM, pabrik telah memiliki formula yang sudah dikembangkan sebelumnya. Brand owner cukup memilih produk yang tersedia, menentukan kemasan, desain, dan nama merek. Sederhananya begini, pabrik menyediakan formula, kamu fokus pada branding dan pemasaran. Karena tidak perlu memulai pengembangan formula dari awal, proses ODM umumnya lebih cepat dan biaya awalnya lebih efisien. Sistem ini banyak dipilih oleh brand baru yang ingin segera masuk ke pasar. Perbedaan OEM dan ODM Agar lebih mudah dipahami, berikut perbandingan sederhananya: Aspek OEM ODM Formula Dikembangkan sesuai kebutuhan brand Formula sudah tersedia Tingkat kustomisasi Tinggi Terbatas Waktu peluncuran Lebih lama Lebih cepat Biaya pengembangan Lebih tinggi Lebih efisien Eksklusivitas Lebih tinggi Tergantung tingkat modifikasi Cocok untuk Brand yang ingin diferensiasi Brand baru atau validasi pasar Apakah OEM Selalu Lebih Baik dari ODM? Belum tentu ya~ OEM dan ODM bukan tentang mana yang lebih baik, tetapi mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan bisnis kamu. Jika tujuan kamu adalah cepat masuk pasar dan menguji produk, ODM bisa menjadi pilihan yang efisien. Namun jika kamu ingin membangun diferensiasi produk yang kuat dalam jangka panjang, OEM dapat menjadi investasi yang menarik nih. Bahkan dalam praktiknya, banyak brand menggunakan pendekatan kombinasi. Misalnya: Produk utama menggunakan OEM Produk pendukung menggunakan ODM Dengan strategi ini, brand dapat menjaga keseimbangan antara efisiensi dan keunikan produk. Selain OEM dan ODM, Apa Itu Maklon? Di Indonesia, istilah maklon sering digunakan sebagai layanan produksi yang mencakup berbagai sistem kerja, termasuk OEM maupun ODM. Selain produksi, perusahaan maklon umumnya juga membantu: Riset dan pengembangan formula Pemilihan bahan baku Desain kemasan Registrasi BPOM Sertifikasi halal Produksi massal Karena itu, memilih partner maklon yang tepat menjadi langkah penting dalam membangun brand skincare dan kosmetik. Her Bayu Inti Siap Membantu Pengembangan Brand kamu Memilih OEM atau ODM bukan hanya soal produksi, tetapi juga bagian dari strategi bisnis. Her Bayu Inti (HBI) merupakan perusahaan maklon skincare, kosmetik, PKRT, dan alat kesehatan (Alkes) yang siap membantu brand owner menentukan sistem produksi yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan bisnisnya. Didukung oleh tim Research & Development (R&D), fasilitas produksi yang terstandarisasi, serta quality control yang ketat, HBI membantu proses mulai dari konsultasi, pengembangan formula, legalitas, hingga produksi massal. Karena setiap brand memiliki kebutuhan yang berbeda. Dan memilih model produksi yang tepat bisa menjadi langkah awal menuju brand yang lebih kuat dan berkelanjutan. REFERENSI Alibaba (2026). OEM vs ODM Cosmetics Manufacturing: A Strategic Guide for B2B Buyers. https://seller.alibaba.com/blogs/2026/southeast-asia/beauty-skincare/oem-odm-cosmetics-manufacturing-guide-alibaba-b2b?utm_source Graminton (2026). OEM vs ODM in Cosmetics: Which Manufacturing Model Fits Your Brand? https://www.graminton.com/?ullm_source Cheng, X., & Tan, J. D. (2023). The Competitive Advantage of PT UNIHAN in Electronic Manufacturing Industry. Jurnal Ilmiah Manajemen Bisnis dan Inovasi Universitas Sam Ratulangi, 10(3), 1960–1972. https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/jmbi/article/download/49198/44951/126644
Tren Minimalis untuk Ingredient Skincare, Bagaimana Arahnya di 2027?
Beberapa tahun terakhir, industri skincare sempat dipenuhi dengan berbagai macam tren ingredient. Mulai dari niacinamide, retinol, vitamin C, peptide, ceramide, PDRN, fermented ingredients, hingga berbagai botanical ingredients. Semakin banyak ingredient yang dikenal konsumen, semakin banyak pula produk yang bermunculan dengan klaim kandungan yang beragam. Namun, memasuki 2026 hingga menuju 2027, muncul sebuah perubahan menarik: konsumen mulai tidak hanya mencari ingredient yang populer, tetapi juga mulai mempertanyakan apakah setiap ingredient benar-benar diperlukan. Inilah yang kemudian mendorong tren skinimalism dan functional minimalism dalam industri skincare. Lalu, seperti apa arah tren ingredient skincare di 2027? Apa Itu Minimalist Skincare? Minimalist skincare atau skinimalism pada dasarnya merupakan pendekatan yang mengutamakan penggunaan produk yang lebih sedikit, tetapi dipilih berdasarkan kebutuhan kulit. Artinya, konsumen tidak lagi menganggap bahwa semakin banyak produk atau semakin panjang daftar ingredient berarti semakin bagus. Tren ini justru mengarah pada produk yang memiliki fungsi jelas, formula lebih terarah, dan memberikan manfaat yang relevan dengan kebutuhan konsumen. Perkembangan tren skinimalism pada 2026 juga menunjukkan pergeseran dari sekadar “mengurangi jumlah produk” menjadi memilih produk yang lebih efektif dan memiliki tujuan yang jelas. Kenapa Tren Ini Bisa Semakin Besar di 2027? Salah satu alasannya adalah consumer fatigue. Bayangkan konsumen harus menggunakan cleanser, toner, essence, serum vitamin C, serum niacinamide, serum peptide, moisturizer, sleeping mask, eye cream, dan berbagai produk lainnya. Bagi sebagian konsumen, rutinitas tersebut justru terasa semakin rumit. Selain membutuhkan waktu dan biaya lebih besar, penggunaan terlalu banyak produk aktif secara bersamaan juga dapat meningkatkan risiko iritasi pada kulit tertentu. Karena itu, konsumen mulai mencari produk yang lebih sederhana tetapi tetap memberikan manfaat. Tren industri ingredient saat ini bahkan mulai mengarah pada multifunctional ingredients, yaitu bahan yang mampu memberikan lebih dari satu manfaat dalam sebuah formulasi 1. Ingredient Multifungsi Akan Semakin Diminati Daripada menggunakan banyak produk untuk kebutuhan berbeda, konsumen akan semakin tertarik pada formula yang mampu memberikan beberapa manfaat sekaligus. Misalnya, satu produk moisturizer yang tidak hanya berfungsi sebagai pelembap, tetapi juga mendukung skin barrier dan memberikan perlindungan antioksidan. Konsepnya sederhana: Lebih sedikit produk, tetapi lebih banyak fungsi. Bagi brand skincare, pendekatan ini juga membuka peluang untuk membuat produk yang lebih praktis dan memiliki value proposition yang lebih kuat. 2. Barrier-Friendly Skincare Tetap Menjadi Prioritas Tren minimalist skincare tidak berarti konsumen akan berhenti menggunakan active ingredients. Justru sebaliknya. Ingredient seperti ceramide, panthenol, glycerin, hyaluronic acid, dan berbagai bahan pendukung skin barrier kemungkinan tetap memiliki tempat penting dalam formulasi. Bedanya, pendekatannya akan semakin mengarah pada “active but gentle.” Artinya, produk tetap ditujukan untuk memberikan manfaat tertentu, tetapi formulanya juga memperhatikan kenyamanan dan toleransi kulit. Hal ini sejalan dengan berkembangnya pendekatan barrier-first skincare dalam tren skinimalism. 3. Ingredient dengan Banyak Manfaat Akan Semakin Menarik Bayangkan satu ingredient yang tidak hanya berfungsi sebagai antioksidan, tetapi juga membantu mendukung skin barrier dan memberikan manfaat soothing. Ingredient seperti ini menjadi semakin menarik dalam konsep formulasi minimalis. Bukan berarti semua produk harus menggunakan sesedikit mungkin ingredient. Yang lebih penting adalah setiap ingredient memiliki alasan keberadaan yang jelas ya. Inilah yang dimaksud dengan functional minimalism: bukan sekadar membuat daftar ingredient menjadi pendek, tetapi memastikan ingredient yang digunakan benar-benar memberikan kontribusi terhadap performa formula. 4. Produk Multifungsi Akan Semakin Berkembang Konsep minimalis juga dapat mendorong munculnya lebih banyak produk hybrid nih. Contohnya: Serum + moisturizer Moisturizer + barrier treatment Sunscreen + moisturizer Toner + essence Body lotion + brightening treatment Produk seperti ini memungkinkan konsumen mendapatkan beberapa manfaat dalam satu langkah. Namun, tantangan bagi formulator adalah memastikan setiap fungsi tersebut tetap bekerja dengan baik tanpa membuat formula menjadi terlalu kompleks. Jadi, Bagaimana Tren Ingredient Skincare di 2027? Kalau melihat perkembangan tren di 2026, 2027 bukan akan menjadi era “semakin sedikit ingredient, semakin bagus.” Justru yang lebih mungkin terjadi adalah: “Less ingredient, more purpose.” Bahan yang digunakan harus memiliki fungsi jelas. Produk harus memiliki tujuan yang mudah dipahami. Formula harus nyaman digunakan. Dan yang paling penting, konsumen harus merasa bahwa produk tersebut memang memberikan manfaat yang relevan. Dengan kata lain, minimalis bukan berarti sederhana dalam teknologi formulasi. Sebuah produk dengan tampilan sederhana dan hanya memiliki beberapa hero ingredient justru bisa membutuhkan proses R&D yang lebih matang untuk memastikan setiap komponen bekerja secara optimal~ Apa Artinya bagi Brand Skincare? Bagi pemilik brand, tren ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Jangan hanya mengejar ingredient yang sedang viral. Mulailah dengan pertanyaan: “Masalah kulit apa yang ingin kita selesaikan?” Setelah itu, tentukan ingredient yang relevan, kombinasikan dengan tepat, lalu kembangkan formula yang memberikan pengalaman penggunaan yang baik. Dengan pendekatan seperti ini, brand tidak hanya menjual ingredient, tetapi menjual solusi. REFERENSI Personal Care Insights. (2026). Science-led minimalism shapes future sustainable skin care. Personal Care Insights. https://www.personalcareinsights.com/news/minimalist-sustainable-skincare-biotech.html?utm_source=chatgpt.com Alves, E. (2026). Multifunctional cosmetic ingredients: The growing power of innovation in personal care. HPC Today. https://www.hpc-today.com/articles/multifunctional-cosmetic-ingredients/?utm_source=chatgpt.com O&3. (2026). 2026 Trend Report Ingredient Spotlight – Functional Minimalism. https://www.oand3.com/stories/2026-trend-report-ingredient-spotlight-functional-minimalism/?utm_source=chatgpt.com American Academy of Dermatology Association. (2024). Skin care basics. American Academy of Dermatology Association. Draelos, Z. D. (2018). Cosmetic dermatology: Products and procedures. Wiley-Blackwell. Barel, A. O., Paye, M., & Maibach, H. I. (Eds.). (2014). Handbook of Cosmetic Science and Technology (4th ed.). CRC Press.
Ingin Produk Terlihat Mewah? Gunakan Jenis-Jenis Kemasan Ini!
Pernah melihat sebuah produk skincare dengan harga yang sebenarnya tidak terlalu mahal, tetapi dari kemasannya terlihat seperti produk premium? Sebaliknya, ada juga produk dengan harga tinggi tetapi kemasannya justru terlihat biasa saja. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemasan bukan hanya berfungsi sebagai pelindung produk. Dalam industri skincare dan kosmetik, kemasan juga menjadi salah satu elemen penting yang membentuk persepsi konsumen terhadap kualitas dan positioning brand. Bahkan, penelitian mengenai kosmetik di Indonesia menunjukkan bahwa berbagai atribut kemasan, seperti warna, desain, material, tipografi, dan informasi pada kemasan, dapat memengaruhi minat beli konsumen lho! Lalu, jenis kemasan seperti apa aja sih yang membuat produk terlihat lebih premium? 1. Kemasan Airless Pump Airless pump menjadi salah satu pilihan yang menarik untuk merek yang ingin menampilkan kesan modern dan premium. Berbeda dengan botol pump biasa, sistem airless menggunakan mekanisme yang membantu mengeluarkan produk tanpa membutuhkan pipa panjang di dalam kemasan. Desainnya yang minimalis dan mekanisme penggunaannya yang terlihat modern membuat airless pump sering digunakan untuk produk seperti serum, moisturizer, cream, dan produk skincare premium lainnya. Selain tampilan, jenis kemasan ini juga dapat memberikan pengalaman penggunaan yang lebih praktis bagi konsumen. 2. Botol Kaca dengan Finishing Premium Botol kaca sering memberikan kesan elegan, kokoh, dan eksklusif. Material kaca dapat dikombinasikan dengan berbagai finishing seperti frosted glass, clear glass, atau warna tertentu untuk menciptakan karakter visual yang berbeda. Untuk serum atau facial essence, misalnya, botol kaca dengan desain sederhana dan tutup berkualitas dapat memberikan kesan premium tanpa harus menggunakan desain yang terlalu ramai. Namun, penggunaan kaca juga perlu mempertimbangkan berat, risiko pecah, biaya logistik, dan kenyamanan konsumen ya~ 3. Jar dengan Desain Minimalis Jar masih menjadi pilihan populer untuk produk cream, sleeping mask, moisturizer, dan body butter. Kalau ingin memberikan kesan mewah, jangan hanya mengandalkan bentuk jar yang unik. Perhatikan juga material, warna, finishing, dan desain tutupnya. Kombinasi seperti jar dengan finishing matte, tutup metalik, dan label minimalis dapat memberikan kesan sophisticated. 4. Kemasan Tube dengan Finishing Matte Kemasan premium tidak selalu harus menggunakan botol kaca lho. Tube juga dapat terlihat mewah jika desain dan finishing-nya tepat. Misalnya, tube dengan permukaan matte, warna yang elegan, tipografi sederhana, dan detail foil dapat memberikan kesan premium sekaligus tetap praktis. Jenis kemasan ini cocok untuk moisturizer, sunscreen, cleanser, hand cream, maupun body care. Keunggulannya adalah ringan, mudah dibawa, dan relatif praktis untuk penggunaan sehari-hari. 5. Kemasan dengan Finishing Foil atau Emboss Kalau ingin memberikan detail yang terasa lebih eksklusif, finishing bisa menjadi salah satu pilihan. Beberapa teknik yang umum digunakan antara lain: Hot stamping/foil Emboss Deboss Spot UV Metallic finishing Matte finishing Namun, penggunaan finishing sebaiknya tidak berlebihan. Satu atau dua elemen premium yang ditempatkan dengan tepat sering kali justru terlihat lebih elegan dibandingkan menggunakan terlalu banyak efek dalam satu kemasan. 6. Kombinasi Botol dan Secondary Packaging Kalau ingin memberikan pengalaman unboxing yang lebih premium, jangan hanya memperhatikan kemasan primer. Kemasan sekunder seperti box juga memiliki peran penting. Botol serum yang sederhana dapat terlihat jauh lebih premium ketika dipadukan dengan box yang memiliki material berkualitas, desain minimalis, emboss, atau finishing khusus. Hal ini juga memberikan ruang lebih besar bagi brand untuk menyampaikan informasi produk sekaligus memperkuat identitas visual. Bukan Cuma Jenis Kemasan, Desain Juga Menentukan Memilih kemasan mahal belum tentu membuat produk otomatis terlihat mewah. Desain keseluruhan harus konsisten. Mulai dari warna, bentuk kemasan, tipografi, logo, material, finishing, hingga informasi yang dicantumkan harus memiliki kesatuan visual. Elemen seperti warna, bentuk, material, gambar, dan kenyamanan kemasan berperan dalam membentuk persepsi konsumen terhadap sebuah brand. Artinya, kemasan premium bukan selalu tentang harga kemasan yang mahal, tetapi bagaimana seluruh elemen tersebut dikombinasikan dengan tepat! Premium Tidak Harus Berarti Mahal Salah satu kesalahan brand baru adalah menganggap produk harus menggunakan kemasan paling mahal agar terlihat premium. Padahal, positioning premium dapat dibangun dengan memilih kemasan yang tepat sesuai target pasar. Misalnya, daripada menggunakan botol dengan banyak ornamen yang membuat biaya produksi tinggi, brand dapat memilih botol sederhana dengan material yang baik, misal finishing matte, tipografi elegan, dan boks minimalis. Hasilnya bisa tetap terlihat premium tanpa membuat biaya kemasan membengkak. Bahkan, tren terbaru menunjukkan bahwa konsumen juga semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dalam kemasan kosmetik. Studi terbaru mengenai eco-friendly cosmetic packaging menunjukkan bahwa persepsi konsumen terhadap material dan desain berkelanjutan juga dapat memengaruhi sikap dan keputusan pembelian nih. Her Bayu Inti Siap Membantu Mengembangkan Produk dan Kemasan Brand Dalam membangun brand skincare & kosmetik, kemasan bukan hanya bagian akhir dari proses produksi. Kemasan sebaiknya sudah dipikirkan sejak awal bersama konsep produk dan target market. Her Bayu Inti (HBI) merupakan perusahaan maklon skincare, kosmetik, PKRT, dan Alkes yang siap membantu brand owner mengembangkan produk sesuai konsep dan kebutuhan pasar. Mulai dari pengembangan formula, pemilihan jenis produk, konsultasi kemasan, hingga proses produksi, tim Her Bayu Inti siap membantu mewujudkan produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki identitas visual yang kuat dan sesuai dengan positioning brand kamu. Karena produk yang bagus memang penting. Tetapi ketika produk tersebut pertama kali dilihat konsumen, kemasanlah yang berbicara lebih dulu~ REFERENSI Perret, J. K., Gómez Velázquez, A., & Mehn, A. (2025). Green cosmetics—The effects of package design on consumers’ willingness-to-pay and sustainability perceptions. Sustainability, 17(6), 2581. https://www.mdpi.com/2071-1050/17/6/2581?utm_source Del Greco, A., et al. (2024). Re-evaluating beauty: Attitudes and perceptions of eco-friendly packaging in beauty care products—A systematic review. Sustainable Production and Consumption, 52, 458–468. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S2352550924003233?utm_source Asilmi, C. B. (2023). Pengaruh desain kemasan produk kecantikan terhadap minat beli konsumen. Journal of Beauty and Cosmetology, 4(1), 6,13. https://journal.unesa.ac.id/index.php/jbc/article/view/20618?utm_source Hasibuan, M. S., & Nuraeni, S. (2023). Influential cosmetic packaging attributes toward customer purchase intention. Journal of Consumer Studies and Applied Marketing, https://jurnal.integrasisainsmedia.co.id/index.php/JCSAM/article/view/80?utm_source Septiyadi, A. L., & Dirgantara, I. M. B. (2021). Pengaruh atribut kemasan (packaging) terhadap minat beli konsumen pada produk kosmetik Emina. Diponegoro Journal of Management, 10(6). https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/djom/article/view/32433?utm_source
Aneka Macam Bentuk Tekstur pada Skincare, Kulit Kamu Cocok dengan yang Mana?
Pernah merasa skincare yang digunakan oleh teman kamu terasa ringan dan nyaman, tetapi ketika digunakan sendiri justru terasa lengket atau membuat wajah semakin berminyak? Hal tersebut sebenarnya cukup wajar. Salah satu alasannya adalah tekstur atau bentuk sediaan skincare. Saat ini, produk skincare hadir dalam berbagai tekstur, mulai dari water-based, gel, lotion, cream, balm, hingga oil. Setiap tekstur memiliki karakteristik yang berbeda dan dapat memberikan sensasi serta fungsi yang berbeda pula pada kulit kamu lho. Menariknya, tekstur yang paling mahal atau paling populer belum tentu paling cocok untuk kulit kamu. Pemilihannya sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kulit, kebutuhan, dan formulasi produknya ya. Lalu, apa saja jenis tekstur skincare yang umum digunakan? 1. Water-Based atau Essence Tekstur water-based umumnya memiliki konsistensi yang sangat cair dan ringan, menyerupai air. Jenis tekstur ini banyak ditemukan pada toner, essence, facial mist, dan beberapa serum. Karena terasa ringan dan mudah diratakan, tekstur water-based biasanya disukai oleh pemilik kulit yang tidak nyaman dengan produk berat atau lengket. Namun, tekstur yang cair bukan berarti produknya otomatis lebih efektif. Performa skincare tetap dipengaruhi oleh bahan aktif, konsentrasi, stabilitas, dan keseluruhan formulasi 2. Gel Tekstur gel biasanya terasa ringan, dingin, dan mudah menyebar ketika diaplikasikan. Gel banyak digunakan pada produk untuk kulit berminyak atau kombinasi karena memberikan sensasi ringan tanpa rasa terlalu “berat” di wajah. Formulasi gel juga dapat digunakan untuk membawa bahan aktif tertentu. Penelitian formulasi dari Universitas Gadjah Mada, misalnya, menunjukkan bahwa ekstrak bahan alami dapat dikembangkan dalam bentuk sediaan gel dengan penggunaan bahan pembentuk gel tertentu. Cocok untuk: kulit berminyak, kombinasi, atau pengguna yang menyukai sensasi ringan. 3. Gel Cream Kalau kamu ingin mendapatkan sensasi ringan dari gel tetapi tetap membutuhkan kelembapan seperti cream, gel cream bisa menjadi pilihan. Teksturnya biasanya berada di antara gel dan cream: tidak secair gel, tetapi juga tidak seberat cream. Jenis formulasi ini semakin populer karena mampu memberikan sensasi ringan sekaligus membantu menjaga hidrasi kulit. Bahkan penelitian klinis terhadap formulasi moisturizer berbasis gel menunjukkan bahwa formulasi tertentu dapat meningkatkan hidrasi dan fungsi barrier kulit. Cocok untuk: kulit normal, kombinasi, hingga kulit yang membutuhkan hidrasi tetapi tidak menyukai cream yang terlalu berat. 4. Lotion Lotion umumnya memiliki tekstur yang lebih cair dibandingkan cream sehingga mudah diratakan pada kulit. Dalam formulasi kosmetik, lotion umumnya berbentuk emulsi dan dapat dirancang dengan perbandingan fase minyak dan air yang berbeda sesuai tujuan produk. Karena karakteristiknya cukup fleksibel, lotion banyak digunakan untuk produk wajah maupun body care. Tekstur ini bagus untuk kulit normal, kombinasi, hingga kulit kering ringan, tergantung formulanya ya. 5. Cream Cream memiliki tekstur lebih kental dibandingkan lotion dan umumnya memberikan rasa lebih emolien pada kulit. Cream dapat diformulasikan menggunakan kombinasi humektan, emolien, dan occlusive untuk membantu meningkatkan hidrasi serta mengurangi kehilangan air dari kulit. Karena itu, cream sering menjadi pilihan bagi pemilik kulit kering atau kulit yang membutuhkan kelembapan lebih tinggi. Namun, bukan berarti kulit berminyak tidak boleh menggunakan cream. Formula cream yang ringan dan non-comedogenic tetap dapat digunakan sesuai kebutuhan kulit. 6. Balm atau Ointment Balm memiliki tekstur yang jauh lebih padat dan umumnya memiliki kandungan minyak atau bahan oklusif yang lebih tinggi. Tekstur seperti ini membantu membentuk lapisan pada permukaan kulit sehingga dapat mengurangi kehilangan air. Karena sifatnya lebih occlusive, balm biasanya lebih cocok untuk area yang sangat kering atau produk seperti lip balm, cleansing balm, dan intensive moisturizer. Namun, bagi pemilik kulit berminyak, tekstur seperti ini mungkin terasa terlalu berat untuk digunakan pada seluruh wajah. 7. Facial Oil Berbeda dengan tekstur berbasis air, facial oil menggunakan minyak sebagai komponen utama. Facial oil dapat memberikan efek emolien dan membantu membuat permukaan kulit terasa lebih lembut. Namun, pemilihan jenis minyak tetap penting karena karakteristik setiap minyak berbeda. Selain itu, penggunaan facial oil sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan kulit dan produk lain dalam rutinitas skincare. Jadi, Tekstur Mana yang Paling Cocok? Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua orang. Secara sederhana, kamu bisa menggunakan panduan berikut: Jenis Kulit Tekstur yang Bisa Dipertimbangkan Berminyak Gel, gel cream, lotion ringan Kombinasi Gel, gel cream, lotion Normal Lotion, gel cream, cream Kering Cream, balm, oil Sangat kering Cream kaya emolien, balm, ointment Namun, tabel tersebut bukan aturan mutlak ya~ Kulit berminyak tetap membutuhkan hidrasi, sedangkan kulit kering tidak selalu membutuhkan produk yang sangat berat. Yang paling penting adalah memilih formulasi yang nyaman, sesuai kebutuhan kulit, dan tidak mengganggu skin barrier. Tekstur Bukan Sekadar Soal “Enak Dipakai” Dalam industri kosmetik, tekstur bukan hanya persoalan sensasi ketika produk diaplikasikan. Pemilihan vehicle atau bentuk sediaan dapat memengaruhi stabilitas produk, penyebaran pada kulit, waktu kontak, pelepasan bahan aktif, hingga kenyamanan konsumen saat menggunakannya. Karena itu, formulasi produk perlu dirancang berdasarkan tujuan dan karakteristik bahan yang digunakan. Inilah mengapa dua produk dengan bahan aktif yang sama belum tentu memberikan pengalaman penggunaan yang sama. Formulasi yang tepat adalah kombinasi antara bahan aktif, vehicle, stabilitas, keamanan, dan pengalaman konsumen. REFERENSI Zulkarnain, A. K., Ichsani, C. N., & Judiantoro, C. L. (2023). Physical properties and stability of grapeseed oil (Vitis vinifera L.) skincare formula with gelling agent combination of Na-CMC-Carbopol and HPMC-Carbopol. Indonesian Journal of Pharmacology and Therapy. https://jurnal.ugm.ac.id/v3/IJPTher/article/view/8279?utm_source Siegenthaler, S., et al. (2021). Vehicles for drug delivery and cosmetic moisturizers: Review and comparison. Pharmaceutics, 13(12), https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34959294/ Lee, C., Bajor, J., Moaddel, T., et al. (2019). Principles of moisturizer product design. Journal of Drugs in Dermatology, 18(1 Suppl), s89–s95. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30681817/ Mayba, J. N., & Gooderham, M. J. (2018). A guide to topical vehicle formulations. Journal of Cutaneous Medicine and Surgery, 22(2), 207–212. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29137492/
Manfaat Strawberry sebagai Kandungan Skincare, Sudah Tahu Belum?
Strawberry atau stroberi bukan hanya buah yang memiliki rasa manis dan menyegarkan. Buah berwarna merah ini juga dikenal mengandung berbagai senyawa bioaktif yang menarik perhatian dalam dunia kosmetik dan skincare. Saat ini, ekstrak strawberry mulai digunakan dalam berbagai produk perawatan kulit, mulai dari masker, serum, moisturizer, lip care, hingga produk body care. Lalu, apa sebenarnya yang membuat strawberry menarik untuk dijadikan kandungan skincare? Salah satu alasannya adalah kandungan vitamin C, polifenol, flavonoid, anthocyanin yang memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa-senyawa tersebut berpotensi membantu melindungi kulit dari efek stres oksidatif akibat faktor lingkungan. Apa Kandungan Aktif dalam Strawberry? Strawberry (Fragaria × ananassa) mengandung berbagai senyawa bioaktif. Beberapa di antaranya adalah vitamin C, anthocyanin, flavonoid, dan senyawa fenolik. Vitamin C dikenal sebagai salah satu antioksidan yang banyak digunakan dalam produk skincare. Sementara itu, anthocyanin & polifenol merupakan kelompok senyawa yang juga memiliki aktivitas antioksidan. Komposisi tersebut membuat ekstrak strawberry menarik untuk dikembangkan sebagai salah satu bahan dalam formulasi skincare. 1. Kaya Antioksidan Salah satu manfaat paling menarik dari strawberry untuk skincare adalah aktivitas antioksidannya. Kulit setiap hari terpapar berbagai faktor lingkungan seperti sinar UV dan polusi. Paparan tersebut dapat meningkatkan pembentukan reactive oxygen species (ROS) yang berkontribusi terhadap stres oksidatif. Antioksidan membantu melawan efek radikal bebas tersebut. Penelitian terhadap ekstrak strawberry menunjukkan bahwa buah ini memiliki kandungan polifenol, anthocyanin, dan vitamin yang berkontribusi terhadap aktivitas antioksidannya. Karena itu, ekstrak strawberry berpotensi menjadi salah satu ingredient untuk produk skincare yang mengusung konsep antioxidant care. 2. Berpotensi Membantu Melindungi Kulit dari Efek UV Sinar ultraviolet merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan sel kulit. Menariknya, penelitian terhadap fibroblas manusia menunjukkan bahwa ekstrak strawberry memiliki aktivitas fotoprotektif terhadap paparan UVA pada model sel. Ekstrak strawberry dalam penelitian tersebut dikaitkan dengan peningkatan viabilitas sel dan penurunan kerusakan DNA akibat UVA. Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa ekstrak strawberry bukan pengganti sunscreen. Studi tersebut merupakan penelitian pada sel, sehingga hasilnya belum bisa disamakan dengan efektivitas sunscreen pada manusia. Jadi, strawberry lebih tepat dipandang sebagai bahan pendukung antioksidan, bukan sebagai bahan utama perlindungan UV ya. 3. Berpotensi Mendukung Perawatan Anti-Aging Karena memiliki kandungan antioksidan, strawberry berpotensi digunakan dalam formulasi skincare dengan konsep anti-aging. Menariknya, penelitian dari Universitas Gadjah Mada mengembangkan formulasi topikal yang mengandung kombinasi ekstrak strawberry, kulit pomelo, dan kulit langsat. Penelitian tersebut mengevaluasi aktivitas antioksidan, anti-tirosinase, dan anti-elastase dari sediaan gel dan krim secara in vitro. Hasil seperti ini menunjukkan bahwa ekstrak strawberry memiliki potensi untuk dikembangkan dalam formulasi kosmetik yang berorientasi pada perawatan tanda-tanda penuaan. 4. Dapat Dikembangkan untuk Produk Lip Care penggunaan strawberry dalam kosmetik tidak terbatas pada skincare wajah. Penelitian di Indonesia juga telah mengembangkan lip cream dengan ekstrak strawberry sebagai sumber pewarna alami sekaligus antioksidan. Formulasi tersebut menggunakan ekstrak Fragaria × ananassa dan mengevaluasi karakteristik fisik sediaan seperti pH, daya sebar, dan daya lekat. Hal ini menunjukkan bahwa strawberry juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ingredient dalam produk lip caredan dekoratif, bukan hanya serum atau moisturizer. Apakah Strawberry Cocok untuk Semua Jenis Kulit? Ekstrak strawberry dapat menjadi salah satu pilihan bahan dalam berbagai formulasi kosmetik. Namun, kecocokan suatu produk tetap bergantung pada keseluruhan formula dan kondisi kulit masing-masing individu. Selain bahan aktif, konsentrasi ekstrak, jenis pelarut, sistem pengawet, pH, stabilitas, serta kombinasi dengan ingredient lainnya dapat memengaruhi karakteristik dan performa produk. Karena itu, “mengandung strawberry” tidak otomatis berarti sebuah produk cocok untuk semua orang. Jika memiliki kulit sensitif atau mudah mengalami reaksi terhadap produk kosmetik, sebaiknya lakukan patch test sebelum menggunakan produk baru ya. Strawberry: Bahan Alami dengan Potensi untuk Industri Skincare Popularitas bahan alami dalam industri kosmetik terus meningkat. Konsumen kini tidak hanya mencari produk dengan klaim menarik, tetapi juga semakin memperhatikan kandungan dan manfaat ingredient yang digunakan. Strawberry menjadi salah satu bahan yang menarik karena memiliki kombinasi vitamin, polifenol, flavonoid, dan anthocyanin yang dapat mendukung pengembangan produk dengan konsep antioxidant, brightening, dan anti-aging. Namun, kualitas sebuah produk tidak ditentukan oleh satu bahan saja. Formulasi yang tepat, stabilitas bahan aktif, keamanan, serta proses produksi juga menjadi faktor penting dalam menghasilkan kosmetik berkualitas ya. REFERENSI CIskandar, B., Desion, A. Z., & Anggraini, D. (2025). Inovasi lip cream ekstrak stroberi (Fragaria × ananassa): Optimasi beeswax dan castor oil sebagai antioksidan alami pelembab bibir. Majalah Farmasetika. https://www.researchgate.net/publication/398432599_ Lukitaningsih, E., Saputro, A. H., Widiasri, M., Khairunnisa, N., Prabaswari, N., & Kuswahyuningsih, R. (2021). In vitro antiaging analysis of topical pharmaceutical preparation containing mixture of strawberry fruit, pomelo peel, and langsat fruit extracts. Indonesian Journal of Chemometrics and Pharmaceutical Analysis. https://journal.ugm.ac.id/v3/IJCPA/article/view/603?utm_source Markiewicz, A., Zasada, M., Erkiert-Polguj, A., Wieckowska-Szakiel, M., & Budzisz, E. (2019). An evaluation of the antiaging properties of strawberry hydrolysate treatment enriched with L-ascorbic acid applied with microneedle mesotherapy. Journal of Cosmetic Dermatology, 18(1), 129–135. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29663691/ Gasparrini, M., Forbes-Hernandez, T. Y., Afrin, S., Alvarez-Suarez, J. M., González-Paramás, A. M., Santos-Buelga, C., Bompadre, S., Quiles, J. L., Mezzetti, B., & Giampieri, F. (2015). A pilot study of the photoprotective effects of strawberry-based cosmetic formulations on human dermal fibroblasts. International Journal of Molecular Sciences, 16(8), 17870–17884. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4581226/?utm_source Giampieri, F., Alvarez-Suarez, J. M., Tulipani, S., Gonzàles-Paramàs, A. M., Santos-Buelga, C., Bompadre, S., Quiles, J. L., Mezzetti, B., & Battino, M. (2012). Photoprotective potential of strawberry (Fragaria × ananassa) extract against UV-A irradiation damage on human fibroblasts. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 60(9), 2322–2327. https://pubs.acs.org/jafcau/article-abstract/60/9/2322/1354985/Photoprotective-Potential-of-Strawberry-Fragaria?redirectedFrom=fulltext
Apa Itu Melasma, dan Skincare Apa yang Cocok untuk Bantu Mengatasinya?
Kamu pernah melihat munculnya bercak cokelat atau kehitaman di pipi, dahi, hidung, atau area atas bibir yang semakin terlihat setelah sering beraktivitas di bawah sinar matahari? Bisa jadi itu bukan sekadar kulit kusam, melainkan melasma. Melasma merupakan kondisi hiperpigmentasi yang menyebabkan munculnya bercak berwarna cokelat hingga abu-abu pada kulit, terutama di area wajah yang sering terpapar sinar matahari. Kondisi ini cukup umum dan dapat dipengaruhi oleh paparan sinar matahari, perubahan hormonal, faktor genetik, serta faktor lainnya. Melasma bukan penyakit yang berbahaya, tetapi kondisi ini cenderung bersifat kronis dan dapat kambuh. Karena itu, perawatannya membutuhkan pendekatan yang konsisten dan tidak cukup hanya menggunakan satu produk skincare saja lho. Apa Itu Melasma? Melasma adalah gangguan pigmentasi yang terjadi ketika sel penghasil pigmen kulit atau melanosit menghasilkan melanin secara berlebihan. Bercak melasma biasanya muncul secara simetris di kedua sisi wajah, misalnya pada pipi, dahi, hidung, dan area di atas bibir. Warna bercak dapat bervariasi dari cokelat muda hingga cokelat tua atau keabu-abuan. Paparan sinar ultraviolet (UV) merupakan salah satu faktor penting yang dapat memperburuk melasma. Selain itu, cahaya tampak (visible light) juga dapat berperan dalam memperburuk pigmentasi, terutama pada orang dengan warna kulit yang lebih gelap. Apa yang Menyebabkan Melasma? Penyebab melasma cukup komplek. Beberapa faktor yang diketahui dapat berperan antara lain: Paparan sinar matahari Perubahan hormonal Kehamilan Penggunaan kontrasepsi hormonal tertentu Faktor genetik Beberapa jenis obat Faktor lingkungan Karena penyebabnya multifaktor, setiap orang dapat memiliki pemicu yang berbeda. Inilah alasan mengapa penanganan melasma sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu ya. Skincare & Kandungan Apa yang Cocok untuk Kulit dengan Melasma? Tidak semua skincare memiliki fungsi yang sama dalam membantu menangani melasma. Berikut beberapa jenis produk dan kandungan yang dapat kamu dipertimbangkan. 1. Sunscreen Kalau ada satu produk yang paling penting dalam rutinitas skincare untuk kulit dengan melasma, jawabannya adalah sunscreen. Paparan sinar UV dapat merangsang produksi melanin dan membuat pigmentasi semakin gelap. Karena itu, perlindungan terhadap sinar matahari merupakan bagian fundamental dari penanganan melasma. Gunakan sunscreen broad-spectrum dengan SPF 30 atau lebih dan aplikasikan secara cukup serta konsisten. Untuk perlindungan terhadap cahaya tampak, sunscreen berwarna (tinted sunscreen) yang mengandung iron oxide juga dapat menjadi pilihan karena visible light dapat memperburuk melasma. 2. Azelaic Acid Azelaic acid merupakan salah satu bahan yang telah diteliti untuk membantu mengatasi hiperpigmentasi dan melasma. Sebuah systematic review dan meta-analysis yang membandingkan azelaic acid dengan hydroquinone menunjukkan bahwa azelaic acid memiliki potensi dalam mengurangi tingkat keparahan melasma. Namun, pilihan bahan tetap perlu mempertimbangkan kondisi dan toleransi kulit masing-masing orang ya. 3. Kojic Acid Kojic acid juga sering digunakan dalam formulasi skincare untuk membantu mengurangi hiperpigmentasi. Bahan ini bekerja dengan menghambat proses pembentukan melanin. Review sistematis mengenai terapi topikal melasma memasukkan kojic acid sebagai salah satu bahan yang memiliki bukti klinis dalam membantu menangani pigmentasi. 4. Niacinamide Niacinamide merupakan salah satu bahan yang cukup populer dalam produk pencerah kulit. Bahan ini dapat membantu mendukung fungsi skin barrier dan memiliki potensi dalam membantu mengurangi tampilan hiperpigmentasi. Dalam beberapa penelitian, niacinamide juga telah dipelajari sebagai salah satu terapi topikal pendukung untuk melasma.Namun, hasil penggunaannya tetap membutuhkan waktu dan konsistensi. 5. Tranexamic Acid Tranexamic acid digunakan dalam formulasi skincare untuk membantu menangani masalah hiperpigmentasi. Berbagai penelitian telah mengevaluasi penggunaan tranexamic acid secara topikal maupun melalui metode lainnya untuk melasma. Hasil systematic review and meta-analysis menunjukkan adanya penurunan tingkat keparahan melasma dengan penggunaannya. Jangan Terlalu Agresif Mengatasi Melasma Kesalahan yang sering terjadi adalah mencoba menghilangkan noda secepat mungkin dengan menggunakan terlalu banyak bahan aktif sekaligus. Padahal, iritasi akibat skincare dapat memperburuk kondisi pigmentasi pada sebagian orang. Karena itu, gunakan produk secara bertahap dan pilih formulasi yang lembut. American Academy of Dermatology juga merekomendasikan penggunaan skincare yang lembut dan bebas pewangi jika kulit mudah mengalami rasa terbakar atau perih. Jika pigmentasi semakin luas, sulit membaik, atau kamu tidak yakin apakah bercak tersebut merupakan melasma, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis kulit. Diagnosis yang tepat penting karena tidak semua bercak hitam pada wajah merupakan melasma ya. Konsistensi Adalah Kunci Melasma bukan masalah kulit yang biasanya hilang dalam beberapa hari. Perawatannya membutuhkan waktu dan konsistensi, bahkan setelah kondisi membaik, perlindungan terhadap sinar matahari tetap diperlukan karena melasma dapat kambuh. Karena itu, rutinitas sederhana seperti cleanser yang lembut, produk perawatan dengan bahan aktif yang sesuai, moisturizer, dan sunscreen dapat menjadi dasar perawatan sehari-hari. REFERENSI Calacattawi, R., Alshahrani, M., Aleid, M., et al. (2024). Tranexamic acid as a therapeutic option for melasma management: Meta-analysis and systematic review of randomized controlled trials. Journal of Dermatological Treatment, 35(1), 2361106. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38843906/ McKesey, J., & Pandya, A. G. (2023). Melasma: Current treatment options and future directions. Journal of the American Academy of Dermatology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31802394/ Albzea, W., Al-Rashidi, R., Alkandari, D., et al. (2023). Azelaic acid versus hydroquinone for managing patients with melasma: Systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Cureus, 15(7), e41796. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37457606/ American Academy of Dermatology Association. (2023). Melasma: Self-care. American Academy of Dermatology Association. https://www.aad.org/public/diseases/a-z/melasma-self-care?utm_source American Academy of Dermatology Association. (2022). Melasma: Diagnosis and treatment. American Academy of Dermatology Association. https://www.aad.org/public/diseases/a-z/melasma-treatment?utm_source
6 Manfaat Matcha sebagai Kandungan Skincare yang Perlu Kamu Ketahui. Benarkah Baik Untuk Kulit?
Matcha selama ini dikenal sebagai minuman yang kaya antioksidan dan memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan lho. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, matcha juga semakin banyak digunakan sebagai salah satu bahan aktif dalam produk skincare nih. Mulai dari facial wash, clay mask, toner, serum, hingga moisturizer kini banyak yang memanfaatkan ekstrak matcha sebagai bagian dari formulanya. Lalu, apa sebenarnya manfaat matcha untuk kulit? Apakah hanya sekadar mengikuti tren, atau memang memiliki manfaat tersendiri? Berikut penjelasan lengkapnya. Apa Itu Matcha? Matcha adalah bubuk teh hijau (Camellia sinensis) yang dibuat dari daun teh berkualitas tinggi yang ditanam dengan metode khusus sebelum dipanen. Berbeda dengan teh hijau biasa, daun matcha digiling hingga menjadi bubuk halus sehingga kandungan senyawa bioaktifnya tetap terjaga. Matcha dikenal kaya akan katekin, terutama epigallocatechin gallate (EGCG), yaitu salah satu antioksidan alami yang banyak diteliti karena potensinya dalam membantu melindungi kulit dari stres oksidatif. Karena kandungan inilah matcha mulai banyak dimanfaatkan dalam industri kosmetik dan skincare. Manfaat Matcha sebagai Bahan kandungan di Skincare 1. Membantu Melindungi Kulit dari Radikal Bebas Setiap hari kulit terpapar sinar matahari, polusi, dan faktor lingkungan lainnya yang dapat meningkatkan pembentukan radikal bebas. Radikal bebas dapat menyebabkan stres oksidatif, yaitu kondisi yang berkontribusi terhadap munculnya tanda-tanda penuaan dini seperti kulit kusam, garis halus, dan berkurangnya elastisitas kulit. Kandungan antioksidan pada matcha membantu menetralkan sebagian radikal bebas sehingga mendukung perlindungan kulit dari kerusakan akibat faktor lingkungan nih. 2. Kulit Jadi Lebih Kering Ekstrak matcha mengandung senyawa polifenol yang diketahui memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa ini dapat membantu meredakan respons inflamasi ringan pada kulit, sehingga matcha sering digunakan dalam produk skincare yang ditujukan untuk kulit yang mudah kemerahan atau terasa tidak nyaman. Perlu diingat, produk skincare bukan obat untuk mengatasi penyakit kulit ya~ 3. Membantu Mengurangi Minyak Berlebih Kulit berminyak sering kali menjadi salah satu penyebab munculnya komedo dan jerawat. Meskipun belum ada bukti bahwa matcha dapat “menghentikan” produksi minyak, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan polifenol dalam teh hijau berpotensi membantu mengurangi produksi sebum pada sebagian orang apabila diformulasikan dengan tepat. Karena itu, matcha banyak digunakan dalam facial wash, clay mask, maupun toner untuk kulit berminyak. 4. Menjaga Kesehatan Skin Barrier Skin barrier merupakan lapisan pelindung alami kulit yang berfungsi menjaga kelembapan sekaligus melindungi kulit dari iritasi dan paparan lingkungan. Melalui aktivitas antioksidannya, matcha dapat membantu mendukung kesehatan kulit sehingga skin barrier tetap berfungsi secara optimal, terutama bila dipadukan dengan bahan pelembap seperti glycerin, ceramide, atau panthenol. 5. Membantu Kulit Tampak Lebih Cerah Paparan sinar UV dan polusi dapat membuat kulit terlihat kusam. Sebagai antioksidan, matcha membantu melindungi kulit dari stres oksidatif yang dapat mempercepat hilangkan tampilan kusam. Namun, penting dipahami bahwa matcha bukan bahan pemutih kulit. Efek kulit tampak lebih cerah biasanya diperoleh dari kombinasi formulasi yang tepat serta rutinitas skincare yang konsisten. 6. Berpotensi Mendukung Perawatan Kulit Berjerawat Polifenol pada teh hijau memiliki aktivitas terhadap bakteri tertentu yang berperan dalam proses timbulnya jerawat serta dapat membantu mengurangi peradangannya. Meski demikian, produk skincare berbahan matcha sebaiknya dipandang sebagai bagian dari rutinitas perawatan kulit saja ya, bukan sebagai pengganti terapi medis untuk jerawat sedang hingga berat. Apakah Matcha Cocok untuk Semua Jenis Kulit? Secara umum, ekstrak matcha dapat digunakan pada berbagai jenis kulit, terutama: Kulit berminyak Kulit kombinasi Kulit kusam Kulit yang sering terpapar polusi Kulit normal Tapi bagi pemilik kulit sensitif, tetap disarankan melakukan patch test sebelum menggunakan produk baru untuk memastikan tidak terjadi reaksi yang tidak diinginkan. Matcha dalam Inovasi Produk Skincare Modern Meningkatnya minat konsumen terhadap bahan alami membuat matcha menjadi salah satu ingredient yang banyak dikembangkan dalam industri skincare dan kosmetik. Namun, manfaat suatu produk tidak hanya bergantung pada bahan aktifnya. Stabilitas ekstrak, konsentrasi yang digunakan, kombinasi dengan bahan lain, serta proses formulasi juga berperan penting dalam menentukan efektivitas produk. Oleh karena itu, pengembangan skincare berbahan matcha membutuhkan riset formulasi yang baik agar manfaat bahan aktif tetap optimal. REFERENSI Maharani. (2026). 29 Manfaat Matcha untuk Wajah, Rahasia Wajah Glowing, Jurnal STKIPMB. https://jurnal.stkipmb.ac.id/29-manfaat-matcha-untuk-wajah-rahasia-wajah-glowing-e-jurnal/ Nichols, J. A., & Katiyar, S. K. (2010). Skin photoprotection by natural polyphenols: Anti-inflammatory, antioxidant and DNA repair mechanisms. Archives of Dermatological Research, 302(2), 71–83. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19898857/ Cabrera, C., Artacho, R., & Giménez, R. (2006). Beneficial effects of green tea: A review. Journal of the American College of Nutrition, 25(2), 79–99. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/16582024/